- Peuyeum Ketan khas Kuningan
Peuyeum ketan yaitu tape yang terbuat dari beras ketan, biasanya ketan yang di gunakan adalah ketan putih namun juga ada yang menggunakan ketan merah, Beras ketan yang sudah di kukus dan di kasih aroma dari daun kusus kemudian di fermentasi menggunakan ragi dan di bungkus dengan daun jambu air, untuk dapat di konsumsi membutuhkan waktu sekitar 3-4 hari. Peuyeum ketan ini memiliki rasa yang khas dan aromanya yang unik, biasanya Peuyeum ketan kuningan di simpan dalam ember sedang hitam berisi 100 buah Peuyeum, namun sekarang ada dalam kemasan kardus kecil juga kemasan plastik.2. Putri Noong Khas Kuningan
Putri Noong adalah kue yang terbuat dari parutan singkong dan pisang nangka lalu dibaluri oleh parutan kelapa.
3. Tahu Lamping Khas Kuningan
Tahu lamping adalah tahu asli Kuningan. Tahu ini lebih padat dan berisi juga memiliki rasa gurih yang khas. Rasanya yang khas konon karena proses pembuatannya yang menggunakan mata air di desa Cigadung yang berada di lamping (lereng) gunung Ciremai.
4. Rarawuan Khas Kuningan
Rarawuan adalah makanan sejenis bakwan atau bala-bala, dengan bahan baku kacang hitam, kelapa kering dan terigu.
5. Kue Satu Khas Kuningan
Kue Satu yaitu kue yang terbuat dari kacang hijau yang disanggrai dan dihaluskan dicampur dengan gula halus kemudian dicetak.
6. Awung Khas Kuningan
Awung yaitu makanan yang terbuat dari tepung beras, parutan kelapa, daun pandan dan gula merah. Bentuknya menyerupai tumpeng berupa gunungan kecil. Rasanya manis dan berserat.
7. Papais Khas Kuningan
Papais yaitu makanan yang terbuat dari bahan baku beras ketan atau ketela pohon yang dibungkus dengan daun pisang, Untuk Papais yang terbuat dari beras ketan ada papais bugis yang berisi adonan parutan kelapa dan gula aren, ada papais monyong berbentuk kerucut dengan isi enten kacang hijau, ada papais koci yang berwarna hijau dengan enten gulamerah dan parutan kelapa dan ada papais beureum yang berwarna merah tanpa isi. Kalau papais yang terbuat dari ketela pohon adalah nagasari yang dalamnya buah pisang atau cuma papais tanpa isi yang rasanya asin.Gimana? Berniat mencobanya? Silahkan ke Kuningan hehehe...Sekarang kita bahas tentang tarian daerahnya yuuk. Disimak lagi yaa...- Tari Buyung
Tari buyung merupakan tarian khas masyarakat Cigugur Kabupaten Kuningan. Tari buyung ini memiliki keterkaitan erat dengan upacara seren taun yaitu serah terima tahun yang lalu ke tahun yang akan datang sebagai penggantinya, hal ini karena tarian ini merupakan tarian utama dalam upacara seren taun di Desa Cigugur Kuningan Jawa Barat. Tarian ini menceritakan tentang gadis-gadis desa Cigugur yang sedang mengambil air ke sungai.Nahh, bagaimana dengan pakaian adatnya? Masih penasaran? Yukk baca lagi nihh di bawaahh...
Motif kuda “Si Windu” dan ikan dewa yang merupakan ikan khas Cigugur Kabupaten Kuningan, kini disepakati sebagai motif batik khas daerah Kuningan looh... Sehingga bisa dikembangkan dan dijadikan pakaian resmi bagi kalangan PNS maupun pegawai swasta bahkan para siswa sekolah yang ada di Kabupaten Kuningan. Bagus kan? Berniat menjadi orang Kabupaten Kuningan?Silahkan hubungi nomor di bawah ini.Mayoritas penduduk yang ada di Kabupaten Kuningan merupakan suku Sunda.Nahh, udah tau kaan beberapa sosial budaya yang ada di Kabupaten Kuningan? Tentunya bangga dong dengan banyaknya budaya yang ada di Indonesia. Maka dari itu kita harus selalu melestarikannya. Semoga bermanfaat :)
Kabupaten Kuningan
Minggu, 13 September 2015
Sosial Budaya Kabupaten Kuningan
Sosial budaya pada Kabupaten Kuningan yang akan kita bahas pada kesempatan kali ini adalah makanan khas, tarian daerah, cerita legenda, pakaian adat, serta suku-suku yang ada di Kabupaten Kuningan.
Perekonomian Masyarakat Kabupaten Kuningan
Haaii...Masih penasaran sama Kabupaten Kuningan? Kita bahas perekonomian masyarakatnya yuukk...
Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kabupaten Kuningan pada tahun 2011 mencapai 5,43% lebih tinggi dibanding dengan dua tahun sebelumnya yaitu tahun 2009 sebesar 4,39% dan tahun 2010 sebesar 4,99%. Waah keren yaa, berarti perekonomiannya meningkat. Sedangkan Inflasi di Kabupaten Kuningan pada tahun 2010 berdasarkan perhitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat sebesar 6,70%. Sementara Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Kuningan sendiri berdasarkan harga konstan tahun 2000 untuk tahun 2011 sebesar Rp. 4,2 trilyun dan PDRB perkapita berdasarkan harga konstan tahun 2000 pada tahun 2011 mencapai Rp. 3,9 juta. Tingkat daya beli masyarakat Kuningan tahun 2010 menurut data Suseda tercatat sebesar Rp. 549 ribu. Dan tingkat pengangguran di Kabupaten Kuningan angkanya cukup besar yaitu mencapai 7,6% dari total angkatan kerja. Duh besar juga yaa... Lapangan pekerjaan penduduk Kabupaten Kuningan masih didominasi oleh 2 sektor ekonomi yaitu sektor pertanian dan perdagangan. Sektor pertanian masih merupakan lapangan usaha yang paling banyak menyerap tenaga kerja. Pada tahun 2010 dari total penduduk Kabupaten Kuningan yang bekerja, 39% bekerja di sektor pertanian dan 30% di sektor perdagangan. Jadi Kabupaten Kuningan didominasi oleh para petani.
Semoga bermanfaat :)
Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kabupaten Kuningan pada tahun 2011 mencapai 5,43% lebih tinggi dibanding dengan dua tahun sebelumnya yaitu tahun 2009 sebesar 4,39% dan tahun 2010 sebesar 4,99%. Waah keren yaa, berarti perekonomiannya meningkat. Sedangkan Inflasi di Kabupaten Kuningan pada tahun 2010 berdasarkan perhitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat sebesar 6,70%. Sementara Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Kuningan sendiri berdasarkan harga konstan tahun 2000 untuk tahun 2011 sebesar Rp. 4,2 trilyun dan PDRB perkapita berdasarkan harga konstan tahun 2000 pada tahun 2011 mencapai Rp. 3,9 juta. Tingkat daya beli masyarakat Kuningan tahun 2010 menurut data Suseda tercatat sebesar Rp. 549 ribu. Dan tingkat pengangguran di Kabupaten Kuningan angkanya cukup besar yaitu mencapai 7,6% dari total angkatan kerja. Duh besar juga yaa... Lapangan pekerjaan penduduk Kabupaten Kuningan masih didominasi oleh 2 sektor ekonomi yaitu sektor pertanian dan perdagangan. Sektor pertanian masih merupakan lapangan usaha yang paling banyak menyerap tenaga kerja. Pada tahun 2010 dari total penduduk Kabupaten Kuningan yang bekerja, 39% bekerja di sektor pertanian dan 30% di sektor perdagangan. Jadi Kabupaten Kuningan didominasi oleh para petani.
Semoga bermanfaat :)
Pemerintahan, Sejarah, dan Arti Lambang Kabupaten Kuningan
Haaaaiiii!!! Ketemu lagi nih sama kitaa.. Masih tentang Kabupaten Kuningan. Yukk simak lagii..
Diperkirakan ± 3.500 tahun sebelum masehi sudah terdapat kehidupan manusia di daerah Kuningan, hal ini berdasarkan pada beberapa peninggalan kehidupan pada zaman pra sejarah yang menunjukkan adanya kehidupan pada zaman Neoliticum dan batu-batu besar yang merupakan peninggalan dari kebudayaan Megaliticum. Bukti peninggalan tersebut dapat teman-teman jumpai di Kampung Cipari Kelurahan Cigugur yaitu dengan ditemukannya peninggalan pra-sejarah pada tahun 1972, berupa alat dari batu obsidian (batu kendan), pecahan-pecahan tembikar, kuburan batu, pekakas dari batu dan keramik. Sehingga diperkirakan pada masa itu terdapat pemukiman manusia yang telah memiliki kebudayaan tinggi. Hasil penelitian menunjukan bahwa Situs Cipari mengalami dua kali masa pemukiman looh, yaitu masa akhir Neoleticum dan awal pengenalan bahan perunggu yang berkisar pada tahun 1000 SM sampai dengan 500 M. Pada waktu itu masyarakat telah mengenal organisasi yang baik serta kepercayaan berupa pemujaan terhadap nenek moyang (animisme dan dinamisme). Selain itu diketemukannya pula peninggalan adat dari batu-batu besar dari zaman megaliticum.
-Masa Hindu
Dalam carita Parahyangan disebutkan bahwa ada suatu pemukiman yang mempunyai kekuatan politik penuh seperti halnya sebuah negara, bernama Kuningan. Kerajaan Kuningan tersebut berdiri setelah Seuweukarma dinobatkan sebagai Raja yang kemudian bergelar Rahiyang Tangkuku atau Sang Kuku yang bersemayam di Arile atau Saunggalah. Seuweukarma menganut ajaran Dangiang Kuning dan berpegang kepada Sanghiyang Dharma (Ajaran Kitab Suci) serta Sanghiyang Riksa (sepuluh pedoman hidup). Ekspansi kekuasaan Kuningan pada zaman kekuasaan Seuweukarma menyeberang sampai ke negeri Melayu. Pada saat itu masyarakat Kuningan merasa hidup aman dan tentram di bawah pimpinan Seuweukarma yang bertahta sampai berusia lama. Berdasarkan sumber carita Parahyangan juga, bahwa sebelum Sanjaya menguasai Kerajaan Galuh, dia harus mengalahkan dulu Sang Wulan - Sang Tumanggal - dan Sang Pandawa tiga tokoh penguasa di Kuningan (= Triumvirat), yaitu tiga tokoh pemegang kendali pemerintahan di Kuningan sebagaimana konsep Tritangtu dalam konsep pemerintahan tradisional suku Sunda Buhun. Sang Wulan, Tumanggal, dan Pandawa ini menjalankan pemerintahan menurut adat tradisi waktu itu, yang bertindak sebagai Sang Rama, Sang Resi, dan Sang Ratu. Sang Rama bertindak selaku pemegang kepala adat, Sang Resi selaku pemegang kepala agama, dan Sang Ratu kepala pemerintahan. Makanya Kerajaan Kuningan waktu dikendalikan tokoh ‘Triumvirat’ ini berada dalam suasana yang gemah ripah lohjinawi, tata tentrem kerta raharja, karena masing-masing dijalankan oleh orang yang ahli di bidangnya. Tata aturan hukum/masalah adat selalu dijalankan adan ditaati, masalah kepercayaan / agama begitu juga pemerintahannya. Semuanya sejalan beriringan selangkah dan seirama.
Ketika Kuningan diperintah Resiguru Demunawan pun (menantu Sang Pandawa), Kerajaan Kuningan memiliki status sebagai Kerajaan Agama (Hindu). Hal ini nampak dari ajaran-ajaran Resiguru Demunawan yang mengajarkan ilmu Dangiang Kuning - keparamartaan, sehingga Kuningan waktu itu tuuh menjadi sangat terkenal. Dalam naskah carita Parahyangan disebutkan kejayaan Kuningan waktu diperintah Resiguru Demunawan atau dikenal dengan nama lain Sang Seuweukarma (penguasa/pemegang Hukum) atau Sang Ranghyangtang Kuku/Sang Kuku, kebesaran Kuningan melebihi atau sebanding dengan Kebesaran Galuh dan Sunda (Pakuan). Kekuasaannya meliputi Melayu, Tuntang, Balitar, dan sebagainya. Hanya ada 3 nama tokoh raja di Jawa Barat yang berpredikat Rajaresi, arti seorang pemimpin pemerintahan dan sekaligus ahli agama (resi). Mereka itu adalah:
-Masa Islam
Sejarah Kuningan pada masa Islam tidak lepas dari pengaruh kesultanan Cirebon. Pada tahun 1470 masehi datang ke Cirebon seorang ulama besar agama Islam yaitu Syeh Syarif Hidayatullah putra Syarif Abdullah dan ibunya Rara Santang atau Syarifah Modaim putra Prabu Siliwangi. Syarif Hidayatullah adalah murid Sayid Rahmat yang lebih dikenal dengan nama Sunan Ampel yang memimpin daerah ampeldenta di Surabaya. Kemudian Syeh Syarif Hidayatullah ditugaskan oleh Sunan Ampel untuk menyebarkan agama Islam di daerah Jawa Barat, dan mula-mula tiba di Cirebon yang pada waktu itu Kepala Pemerintahan Cirebon dipegang oleh Haji Doel Iman. Pada waktu 1479 masehi Haji Doel Iman berkenan menyerahkan pimpinan pemerintahan kepada Syeh Syarif Hidayatullah setelah menikah dengan putrinya. Karena terdorong oleh hasrat ingin menyebarkan agama Islam, pada tahun 1481 Masehi Syeh Syarif Hidayatullah berangkat ke daerah Luragung, Kuningan yang masuk wilayah Cirebon Selatan yang pada waktu itu dipimpin oleh Ki Gedeng Luragung yang bersaudara dengan Ki Gedeng Kasmaya dari Cirebon, selanjutnya Ki Gedeng Luragung memeluk agama Islam.
Pada waktu Syeh Syarif Hidayatullah di Luragung, Kuningan, datanglah Ratu Ontin Nio istrinya dalam keadaan hamil dari negeri Cina (bergelar: Ratu Rara Sumanding) ke Luragung, Kuningan, dari Ratu Ontin Nio alias Ratu Lara Sumanding lahir seorang putra yang tampan dan gagah yang diberi nama Pangeran Kuningan, wiiii pangeraan. setelah dari Luragung, Kuningan, Syeh Syarif Hidayatullah dengan rombongan menuju tempat tinggal Ki Gendeng Kuningan di Winduherang, dan menitipkan Pangeran Kuningan yang masih kecil kepada Ki Gendeng Kuningan agar disusui oleh istri Ki Gendeng Kuningan, karena waktu itu Ki Gendeng Kuningan mempunyai putera yang sebaya dengan Pangeran Kuningan namanya Amung Gegetuning Ati yang oleh Syeh Syarif Hidayatullah diganti namanya menjadi Pangeran Arya Kamuning serta dia memberikan amanat bahwa kelak dimana Pangeran Kuningan sudah dewasa akan dinobatkan menjadi Adipati Kuningan.
Setelah Pangeran Kuningan dan Pangeran Arya Kamuning tumbuh dewasa, diperkirakan tepatnya pada bulan Muharam tanggal 1 September 1498 Masehi, Pangeran Kuningan dilantik menjadi kepala pemerintahan dengan gelar Pangeran Arya Adipati Kuningan (Adipati Kuningan) dan dibantu oleh Arya Kamuning. Maka sejak itulah dinyatakan sebagai titik tolak terbentuknya pemerintahan Kuningan yang selanjutnya ditetapkan menjadi tanggal hari jadi Kuningan, nahh gitu tuh temen-temen.
Masuknya Agama Islam ke Kuningan nampak dari munculnya tokoh-tokoh pemimpin Kuningan yang berasal atau mempunyai latar belakang agama. Sebut saja Syekh Maulana Akbar saudara kandung Syekh Datuk Kahfi, yang akhirnya menikahkan putranya, bernama Syekh Maulana Arifin saudara sepupu Pangeran Panjunan, dengan Nyai Ratu Selawati penguasa Kuningan waktu itu putri Pangeran Surawisesa cucu Prabu Siliwangi yang juga menantu Prabu Langlangbuana. Hal ini menandai peralihan kekuasaan dari Hindu ke Islam yang memang berjalan dengan damai melalui ikatan perkawinan. Waktu itu di Kuningan muncul pedukuhan-pedukuhan yang bermula dari pembukaan-pembukaan pondok pesantren, seperti Pesantren Sidapurna (menuju kesempurnaan), Syekh Rama Ireng (Balong Darma). Termasuk juga diantaranya pesantren Lengkong oleh Haji Hasan Maulani.
- Pasca Kemerdekaan
Kuningan menjadi tempat dilaksanakannya Perundingan Linggarjati pada bulan November 1946. Karena tidak memungkinkan perundingan dilakukan di Jakarta maupun di Yogyakarta (ibukota sementara RI), maka diambil jalan tengah jika perjanjian diadakan di Linggarjati, Kuningan. Hari Minggu pada tanggal 10 November 1946 Lord Killearn tiba di Cirebon. Ia berangkat dari Jakarta menumpang kapal fregat Inggris H.M.S. Veryan Bay. Ia tidak berkeberatan menginap di Hotel Linggarjati yang sekaligus menjadi tempat perundingan.
Delegasi Belanda berangkat dari Jakarta dengan menumpang kapal terbang “Catalina” yang mendarat dan berlabuh di luar Cirebon. Dari “Catalina” mereka pindah ke kapal perang “Banckert” yang kemudian menjadi hotel terapung selama perjanjian berlangsung. Delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Sjahrir menginap di desa Linggasama, sebuah desa dekat Linggarjati. Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta sendiri menginap di kediaman Bupati Kuningan. Kedua delegasi mengadakan perundingan pada tanggal 11-12 November 1946 yang ditengahi oleh Lord Kilearn, penengah berkebangsaan Inggris.
Nahh, udah pada taukaan sejarahnya Kabupaten Kuningaan? Sekarang kita cari tau yukk arti dari lambang Kabupaten Kuningan itu sendiri...
- PemerintahanSebagai sebuah Kabupaten, Kuningan dipimpin oleh seorang bupati. Bupati sebelumnya dipilih oleh DPRD. Tapi nih temen-temen, untuk tahun 2008, pertama kalinya Kabupaten Kuningan mengadakan pemilihan kepala daerah atau Pilkada Bupati secara LANGSUNG. Pilkada ini diikuti oleh 3 pasangan, yang dimenangkan oleh...jengjengjeng... dimenangkan oleh incumbent H. Aang Hamid Suganda. Berikut adalah nama-nama bupati yang pernah memimpin Kabupaten Kuningan:
- Aom Adali (1919-1921)
- Mohamad Ahmad (1921-1940)
- R. Umar Said (1940-1942)
- Rifai (1942-1945)
- Noer (Bupati RI) (1945-1951)
- Sodikin (Recomba) (1948-1949)
- Holan (Recomba (1947-1948)
- Tikok Abdrurohman (1951-1952)
- Sumitra (1952-1954)
- TB Amin Abdullah (1954-1957)
- Yusuf (Pejabat) (1957-1958)
- Saleh Alibasyah (1958-1961)
- Uman Jatikusumah (1961-1966)
- Suminta (Pejabat) (1966-1967)
- R. Aruman Wirangganapati (1967-1973)
- Karli Akbar (1973-1983)
- R.H. Unang Sunarjo S.H. (1978-1983)
- Drs. H. Moch. Djufri Pringadi (1983-1988)
- Drs. H. Subandi (1988-1993)
- H. Yeng. D.S. Partawinata SH (1993-1998)
- Drs. H. Arifin Setiamihardja MM (1998-2003)
- H. Aang Hamid Suganda S.Sos. (2003-2008)
- H. Aang Hamid Suganda S.Sos. (2008-2013)
- Hj. Utje Ch. Hamid Suganda S.Sos., M.Ap. (2013-20...)
- Sejarah
Diperkirakan ± 3.500 tahun sebelum masehi sudah terdapat kehidupan manusia di daerah Kuningan, hal ini berdasarkan pada beberapa peninggalan kehidupan pada zaman pra sejarah yang menunjukkan adanya kehidupan pada zaman Neoliticum dan batu-batu besar yang merupakan peninggalan dari kebudayaan Megaliticum. Bukti peninggalan tersebut dapat teman-teman jumpai di Kampung Cipari Kelurahan Cigugur yaitu dengan ditemukannya peninggalan pra-sejarah pada tahun 1972, berupa alat dari batu obsidian (batu kendan), pecahan-pecahan tembikar, kuburan batu, pekakas dari batu dan keramik. Sehingga diperkirakan pada masa itu terdapat pemukiman manusia yang telah memiliki kebudayaan tinggi. Hasil penelitian menunjukan bahwa Situs Cipari mengalami dua kali masa pemukiman looh, yaitu masa akhir Neoleticum dan awal pengenalan bahan perunggu yang berkisar pada tahun 1000 SM sampai dengan 500 M. Pada waktu itu masyarakat telah mengenal organisasi yang baik serta kepercayaan berupa pemujaan terhadap nenek moyang (animisme dan dinamisme). Selain itu diketemukannya pula peninggalan adat dari batu-batu besar dari zaman megaliticum.
-Masa Hindu
Dalam carita Parahyangan disebutkan bahwa ada suatu pemukiman yang mempunyai kekuatan politik penuh seperti halnya sebuah negara, bernama Kuningan. Kerajaan Kuningan tersebut berdiri setelah Seuweukarma dinobatkan sebagai Raja yang kemudian bergelar Rahiyang Tangkuku atau Sang Kuku yang bersemayam di Arile atau Saunggalah. Seuweukarma menganut ajaran Dangiang Kuning dan berpegang kepada Sanghiyang Dharma (Ajaran Kitab Suci) serta Sanghiyang Riksa (sepuluh pedoman hidup). Ekspansi kekuasaan Kuningan pada zaman kekuasaan Seuweukarma menyeberang sampai ke negeri Melayu. Pada saat itu masyarakat Kuningan merasa hidup aman dan tentram di bawah pimpinan Seuweukarma yang bertahta sampai berusia lama. Berdasarkan sumber carita Parahyangan juga, bahwa sebelum Sanjaya menguasai Kerajaan Galuh, dia harus mengalahkan dulu Sang Wulan - Sang Tumanggal - dan Sang Pandawa tiga tokoh penguasa di Kuningan (= Triumvirat), yaitu tiga tokoh pemegang kendali pemerintahan di Kuningan sebagaimana konsep Tritangtu dalam konsep pemerintahan tradisional suku Sunda Buhun. Sang Wulan, Tumanggal, dan Pandawa ini menjalankan pemerintahan menurut adat tradisi waktu itu, yang bertindak sebagai Sang Rama, Sang Resi, dan Sang Ratu. Sang Rama bertindak selaku pemegang kepala adat, Sang Resi selaku pemegang kepala agama, dan Sang Ratu kepala pemerintahan. Makanya Kerajaan Kuningan waktu dikendalikan tokoh ‘Triumvirat’ ini berada dalam suasana yang gemah ripah lohjinawi, tata tentrem kerta raharja, karena masing-masing dijalankan oleh orang yang ahli di bidangnya. Tata aturan hukum/masalah adat selalu dijalankan adan ditaati, masalah kepercayaan / agama begitu juga pemerintahannya. Semuanya sejalan beriringan selangkah dan seirama.
Ketika Kuningan diperintah Resiguru Demunawan pun (menantu Sang Pandawa), Kerajaan Kuningan memiliki status sebagai Kerajaan Agama (Hindu). Hal ini nampak dari ajaran-ajaran Resiguru Demunawan yang mengajarkan ilmu Dangiang Kuning - keparamartaan, sehingga Kuningan waktu itu tuuh menjadi sangat terkenal. Dalam naskah carita Parahyangan disebutkan kejayaan Kuningan waktu diperintah Resiguru Demunawan atau dikenal dengan nama lain Sang Seuweukarma (penguasa/pemegang Hukum) atau Sang Ranghyangtang Kuku/Sang Kuku, kebesaran Kuningan melebihi atau sebanding dengan Kebesaran Galuh dan Sunda (Pakuan). Kekuasaannya meliputi Melayu, Tuntang, Balitar, dan sebagainya. Hanya ada 3 nama tokoh raja di Jawa Barat yang berpredikat Rajaresi, arti seorang pemimpin pemerintahan dan sekaligus ahli agama (resi). Mereka itu adalah:
- Resi Manikmaya dari Kerajaan Kendan (sekitar Cicalengka - Bandung)
- Resi Demunawan dari Saunggalah Kuningan
- Resi Niskala Wastu Kencana dari Galuh Kawali
-Masa Islam
Sejarah Kuningan pada masa Islam tidak lepas dari pengaruh kesultanan Cirebon. Pada tahun 1470 masehi datang ke Cirebon seorang ulama besar agama Islam yaitu Syeh Syarif Hidayatullah putra Syarif Abdullah dan ibunya Rara Santang atau Syarifah Modaim putra Prabu Siliwangi. Syarif Hidayatullah adalah murid Sayid Rahmat yang lebih dikenal dengan nama Sunan Ampel yang memimpin daerah ampeldenta di Surabaya. Kemudian Syeh Syarif Hidayatullah ditugaskan oleh Sunan Ampel untuk menyebarkan agama Islam di daerah Jawa Barat, dan mula-mula tiba di Cirebon yang pada waktu itu Kepala Pemerintahan Cirebon dipegang oleh Haji Doel Iman. Pada waktu 1479 masehi Haji Doel Iman berkenan menyerahkan pimpinan pemerintahan kepada Syeh Syarif Hidayatullah setelah menikah dengan putrinya. Karena terdorong oleh hasrat ingin menyebarkan agama Islam, pada tahun 1481 Masehi Syeh Syarif Hidayatullah berangkat ke daerah Luragung, Kuningan yang masuk wilayah Cirebon Selatan yang pada waktu itu dipimpin oleh Ki Gedeng Luragung yang bersaudara dengan Ki Gedeng Kasmaya dari Cirebon, selanjutnya Ki Gedeng Luragung memeluk agama Islam.
Pada waktu Syeh Syarif Hidayatullah di Luragung, Kuningan, datanglah Ratu Ontin Nio istrinya dalam keadaan hamil dari negeri Cina (bergelar: Ratu Rara Sumanding) ke Luragung, Kuningan, dari Ratu Ontin Nio alias Ratu Lara Sumanding lahir seorang putra yang tampan dan gagah yang diberi nama Pangeran Kuningan, wiiii pangeraan. setelah dari Luragung, Kuningan, Syeh Syarif Hidayatullah dengan rombongan menuju tempat tinggal Ki Gendeng Kuningan di Winduherang, dan menitipkan Pangeran Kuningan yang masih kecil kepada Ki Gendeng Kuningan agar disusui oleh istri Ki Gendeng Kuningan, karena waktu itu Ki Gendeng Kuningan mempunyai putera yang sebaya dengan Pangeran Kuningan namanya Amung Gegetuning Ati yang oleh Syeh Syarif Hidayatullah diganti namanya menjadi Pangeran Arya Kamuning serta dia memberikan amanat bahwa kelak dimana Pangeran Kuningan sudah dewasa akan dinobatkan menjadi Adipati Kuningan.
Setelah Pangeran Kuningan dan Pangeran Arya Kamuning tumbuh dewasa, diperkirakan tepatnya pada bulan Muharam tanggal 1 September 1498 Masehi, Pangeran Kuningan dilantik menjadi kepala pemerintahan dengan gelar Pangeran Arya Adipati Kuningan (Adipati Kuningan) dan dibantu oleh Arya Kamuning. Maka sejak itulah dinyatakan sebagai titik tolak terbentuknya pemerintahan Kuningan yang selanjutnya ditetapkan menjadi tanggal hari jadi Kuningan, nahh gitu tuh temen-temen.
Masuknya Agama Islam ke Kuningan nampak dari munculnya tokoh-tokoh pemimpin Kuningan yang berasal atau mempunyai latar belakang agama. Sebut saja Syekh Maulana Akbar saudara kandung Syekh Datuk Kahfi, yang akhirnya menikahkan putranya, bernama Syekh Maulana Arifin saudara sepupu Pangeran Panjunan, dengan Nyai Ratu Selawati penguasa Kuningan waktu itu putri Pangeran Surawisesa cucu Prabu Siliwangi yang juga menantu Prabu Langlangbuana. Hal ini menandai peralihan kekuasaan dari Hindu ke Islam yang memang berjalan dengan damai melalui ikatan perkawinan. Waktu itu di Kuningan muncul pedukuhan-pedukuhan yang bermula dari pembukaan-pembukaan pondok pesantren, seperti Pesantren Sidapurna (menuju kesempurnaan), Syekh Rama Ireng (Balong Darma). Termasuk juga diantaranya pesantren Lengkong oleh Haji Hasan Maulani.
- Pasca Kemerdekaan
Kuningan menjadi tempat dilaksanakannya Perundingan Linggarjati pada bulan November 1946. Karena tidak memungkinkan perundingan dilakukan di Jakarta maupun di Yogyakarta (ibukota sementara RI), maka diambil jalan tengah jika perjanjian diadakan di Linggarjati, Kuningan. Hari Minggu pada tanggal 10 November 1946 Lord Killearn tiba di Cirebon. Ia berangkat dari Jakarta menumpang kapal fregat Inggris H.M.S. Veryan Bay. Ia tidak berkeberatan menginap di Hotel Linggarjati yang sekaligus menjadi tempat perundingan.
Delegasi Belanda berangkat dari Jakarta dengan menumpang kapal terbang “Catalina” yang mendarat dan berlabuh di luar Cirebon. Dari “Catalina” mereka pindah ke kapal perang “Banckert” yang kemudian menjadi hotel terapung selama perjanjian berlangsung. Delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Sjahrir menginap di desa Linggasama, sebuah desa dekat Linggarjati. Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta sendiri menginap di kediaman Bupati Kuningan. Kedua delegasi mengadakan perundingan pada tanggal 11-12 November 1946 yang ditengahi oleh Lord Kilearn, penengah berkebangsaan Inggris.
Nahh, udah pada taukaan sejarahnya Kabupaten Kuningaan? Sekarang kita cari tau yukk arti dari lambang Kabupaten Kuningan itu sendiri...
- Dasar Perisai berbentuk lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia berarti tenang, penegak keamanan Pancasila dan UUD 1945 serta lambang keadaan yang selalu aman, tenteram, dan sejahtera.
- Kuda Jantan melambangkan sifat masyarakat kuningan yang dinamis, konstruktif, kreatif, sportif, semangat menegakkan keadlian dan melenyapkan kebathilan. Dalam sejarah perjuangan leluhur Kuningan dan masa gerilya dalam Kabupaten Kuningan, kuda digunakan sebagai sarana angkutan dan juga digunakan sebagai alat perjuangan, serta terkenal dengan Leutik-leutik kuda Kuningan (Kecil-kecil kuda Kuningan).
- Gunung Ciremai menunjukkan Kuningan berada di kaki gunung Ciremai, gunung tertinggi di Jawa Barat dengan tanahnya yang subur, udaranya sejuk dan nyaman, cocok untuk daerah wisata.
- Air Sungai Lima Gelombang melambangkan bahwa Kabupaten Kuningan memiliki 5 sungai yang besar, yaitu Cisanggarung, Cijolang, Cisande, Cijangkelok, dan sungai Citaal.
- Bokor Kuning melambangkan sejarah lahirnya Sang Adipati Kuningan yang kemudian menjadi kepala pemerintahan pertama di Kuningan pada tanggal 1 April 1498. Bokor Kuning diartikan juga sebagai lambang lahirnya Pemerintah Kabupaten Kuningan pada tanggal 1 September 1498.
- Padi melambangkan kesuburan di bidang pangan.
- Kapas melambangkan kesuburan di bidang sandang.
- Hijau: Kemakmuran, kesejukan, ketenangan, dan harapan (optimis).
- Putih: Kesucian, kebersihan, kejujuran, keadilan, dan kewibawaan.
- Hitam: Tegak, kuat, kebenaran, ampuh, dan teguh.
- Biru: Kesetiaan, ketaatan, kepatuhan, kebesaran jiwa, berpandangan luas, perasaan halus, rendah hati, dan berjiwa besar.
- Kuning Emas: Kesejahteraan, keagamaan, keagungan, keluhuran, dan keluhungan.
Sumber Daya Alam Kabupaten Kuningan
Assalamu'alaikum...
Hai semuanyaaa!!!
Pada kesempatan kali ini, kita dari kelompok 11 kelas XI IPA 4 mau ngeshare tentang sumber daya alam yang ada di Kabupaten Kuningan niihh... Mau tau? Yukk dibaca...
- Potensi Sumber Daya Kehutanan
Kabupaten Kuningan memiliki luas 511,53 km2. Dari hasil hutan itu menghasilkan berbagai macam jenis kayu, seperti kayu jati, mahoni, sonokeling, pinus, dan rawa campuran. Selain kayu, hutan-hutan di Kabupaten Kuningan juga menghasilkan bambu, jamur dan madu lohh.. Sumberdaya kehutanan ini tersebar di seluruh kecamatan di Kabupaten Kuningan.
- Potensi Sumber Daya Perkebunan
Lahan perkebunan yang dimiliki Kabupaten Kuningan seluas 62,48 km2. Dengan komoditas utama hasil perkebunannya adalah kelapa, cengkih, dan kopi. Perkebunannya juga tersebar di seluruh kecamatan di Kabupaten Kuningan.

·
Potensi Sumber Daya Pertanian
Kabupaten Kuningan memiliki lahan pertanian seluas 698,79 km2. Komoditas pertanian
yang memiliki nilai produktivitas tinggi adalah padi sawah yang terdapat
di seluruh wilayah di Kabupaten Kuningan dan ubi jalar yang tumbuh di Kecamatan
Cilimus, Garawangi, jalaksana, Pancalang, dan Mandirancan. Banyak juga yaa
temen-temen...

·
Potensi
Sumber Daya Peternakan
Kabupaten Kuningan memiliki potensi peternakan
berbagai jenis ayam dengan jumlah populasinya berkisar anatar 3346 – 50524
ekor, peternakan domba dengan jumlah papulasinya sebanyak
1554 – 11616 ekor, peternakan sapi perah dan pedaging dengan
jumlah populasi terbesarnya 5167 ekor. Di Kabupaten Kuningan juga memilki
peternakan itik, kambing, kerbau, kuda dan babi.

·
Potensi
Sumber Daya Perikanan
Perikanan Kabupaten Kuningan
memiliki nilai produksi 9016 ton per tahun, dengan jenis potensi
perikanannya berupa ikan mas, tawes, mujaer, tambak, nilem, gurame, nila,
sepat, lele, dan lain-lain. Kecamatan Darma, Ciawigebang, Kramatmulya, Kuningan,
Selajambe, dan 6 Lebakwangi merupakan kecamatan penghasil ikan paling
banyak diantara kecamatan lainnya.

·
Potensi
Sumber Daya Air
Kabupaten
Kuningan memiliki 3 SWS, 43 sub DAS, 1 waduk, 102 situ dan embung, 523 sumber
mata air dengan debit air rata-ratanya 23,65 liter per detik. Sumberdaya air di
Kabupaten Kuningan sudah dapat mencukupi kebutuhan air domestik, jadi
sumberdaya air Kabupaten Kuningan juga dapat dimanfaatkan oleh wilayah
sekitarnya seperti Kabupaten Cirebon. Keren kaann, saling melengkapi dan
berbagi...

·
Potensi
Sumber Daya Panas Bumi
Kabupaten
Kuningan memiliki sumber panas bumi di 4 wilayah, yaitu Pajambon, Sangkanhurip,
Ciniru, dan Subang. Potensi Panas Bumi di Pajambon, Sangkanhurip, dan Ciniru
memiliki potensi 235 MW dan akan dibangun Pembangkit Listrik tenaga Panas Bumi
looh...

·
Potensi
Sumber Daya Pariwisata
Keindahan
alam Kabupaten Kuningan berpotensi untuk dijadikan objek wisata alam. Kabupaten
Kuningan memiliki 21 objek wisata alam yang sedang berkembang dan 25 objek
masih dalam tahap eksplorasi. Objek wisata tersebut merupakan paduan pesona
alam, sejarah, dan budaya.

Nahh temen-temen... Udah pada tau kaan apa aja sumber
daya alam yang ada di Kabupaten Kuningan? Banyak banget kaann? Untuk itu kita
harus selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan Allah Swt.
Sekian dulu yaaa. Terimakasih atas kunjungannya.
Semoga bermanfaat... :)
Langganan:
Komentar (Atom)